Tampilkan postingan dengan label teror novel baswedan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teror novel baswedan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Agustus 2017

Cerita ICW soal Salah Satu Stafnya Diserang Seperti Novel Baswedan

foto: bertha/GARASInews

Jakarta,GARASInews - Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW), Adnan Topan Husodo, bercerita stafnya sekaligus aktivis antikorupsi Tama S Langkun pernah mengalami teror, mirip dengan yang menimpa Novel Baswedan. Peristiwa itu terjadi tahun 2010 dan pelakunya tak terungkap hingga hari ini.

"Dalam hal ini kebetulan dialami oleh staf ICW, Tama S Langkun, yang terjadi 8 juli 2010 lalu. Sampai hari ini pelakunya juga tidak terungkap," ujar Adnan dalam diskusi mingguan di restoran Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (5/8/2017).

Adnan menjelaskan letak kemiripan dengan model penyerangan Novel adalah pelaku memilih tempat yang sepi, gelap, dan mengendarai motor. Sebelum peristiwa penyerangan terjadi, ICW juga mendapat informasi dari intelijen agar berhati-hati.

"Karena jauh sebelum penyerangan, Tama sudah mengidentifikasi ada kelompok tertentu yang mengintai. Kadang depan kantor ada mobil yang tidak teridentifikasi, bisa seharian ada di situ. Ketika di luar kantor, membuntuti dengan kendaraan motor," ungkap Adnan.

"Dan juga ada info intelijen yang sampai ke kita dan mengatakan, dan memberikan warning agar teman-teman ICW harus waspada, karena ada kemungkinan kejadian tertentu. Itu juga disampaikan tim dari kepolisian sendiri," imbuh Adnan.

Adnan menyebut pelaku penyerangan terhadap Tama, 7 tahun silam, terbilang profesional. Para pelaku mengendarai 3 motor dengan memegang pedang.

"Seakan tetap terjadi dan memang serangan itu sangat profesional karena dilakukan pada malam hari dan tempatnya gelap. Dan mereka (para pelaku) dari segi skill juga sangat profesional karena saat jatuh dari motor, lalu bangun kembali dan kabur," terang Adnan.

Kala itu Tama lolos dari maut namun memerlukan perawatan di rumah sakit. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), cerita Adnan, yang kala itu menjabat sebagai presiden mengeluarkan pernyataan agar polisi mengusut tuntas kasus penyerangan terhadap Tama.

"Komitmen dari presiden saat itu sama (dengan Presiden Joko Widodo). Karena pada saat itu yang jadi presiden adalah SBY. Bahkan Pak SBY sempat menjenguk Tama di rumah sakit dan sempat menyampaikan statement yang keras," ucap Tama.

"Bahwa cara-cara seperti ini harus dihilangkan dan dihentikan dan meminta jajaran kepolisian mengusut tuntas dan menyeret pelakunya," sambung Tama menirukan ucapan SBY.

Adnan mengilas balik, penyerangan terjadi saat Tama menyelidiki kasus rekening gendut di kepolisian. Hasil penyelidikan Tama kemudian dilaporkan ke KPK.

"Tama saat itu sedang menangani sebuah kasus yang kebetulan berhubungan dengan kasus di kepolisian. Dalam hal ini rekening gendut di kepolisian. Laporannya juga dilaporkan kepada KPK saat itu," ucap Adnan.

Adnan menyangsikan keseriusan Polri dalam menangani kasus Tama, dan saat ini untuk kasus Novel Baswedan. Dia mempertanyakan, mengapa kemampuan polisi yang teruji dalam membongkar kasus kriminal rumit, tidak terjadi dalam kasus penyerangan yang melibatkan para pemberantas korupsi.

"Saya ingin katakan bahwa kendala dari penanganan perkara seperti ini, bukan karena kekurangan bukti-bukti. Dan kalau kita lihat kinerja kepolisian, kejahatan yang rumit sekalipun mereka mampu dalam waktu beberapa bulan, meski tidak ada saksi" tutup Adnan.

SUMBER: WWW.GARASIGAMING.COM

Selasa, 01 Agustus 2017

Diajak Kapolri Ikut Usut Teror ke Novel, Ini Jawaban KPK

foto: bertha/GARASInews

Jakarta,GARASInews - KPK menyebut belum ada tim bersama-sama dengan Polri dalam rangka investigasi teror penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan. Lagipula, KPK menyebut bila investigasi kasus Novel merupakan ranah pidana umum yang berarti di luar kewenangan KPK.

"Belum ada tim, dalam artian tim yang bersama-sama melakukan investigasi, seperti yang disampaikan Kapolri," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah ketika dikonfirmasi GARASInews, Selasa (1/8/2017).

"Karena investigasi tersebut bersifat pro yustisia dan berada di ranah pidana umum, tentu kewenangan saat itu berada di Polri," sambung Febri.

Namun KPK menyambut positif pertemuan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, kemarin. KPK pun siap berkoordinasi dengan Polri selanjutnya dalam rangka penuntasan kasus Novel.

"Tentu, kita mencoba melihat pertemuan Kapolri ke Presiden kemarin sebagai hal positif. Perhatian Presiden pada teror terhadap Novel yang sejak awal langsung mengutuk dan memerintahkan Kapolri, dan setelah 111 hari kemudian memanggil Kapolri perlu kita hargai. Harapannya setelah ini ada percepatan pengusutan hingga pelaku ditemukan," ujar Febri.

Pada Senin kemarin, Tito menjawab tentang desakan publik akan pembentukan tim gabungan pencari fakta yang melibatkan unsur sipil. Tito menegaskan sudah ada tim bentukan Polri yang juga membuka keterlibatan KPK.

"Saya pikir kita harus percaya kepada institusi KPK karena teman-teman di KPK kan cukup kredibel. Kalau saja dibentuk tim gabungan independen, misalnya, ini kan sifatnya mencari fakta, bukan melakukan investigasi. Kalau mencari fakta beda dengan investigasi," ujar Tito di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.

Tito mengatakan investigasi dapat melakukan penyelidikan lebih mendalam sampai menemukan data mentah. Tim investigasi bahkan dapat melakukan analisis IT untuk mengungkap kasus tersebut.

Tito mengakui kinerja polisi dalam mengusut kasus Novel selama ini dipandang kurang kredibel. Untuk itu, pihaknya meminta publik mempercayakan pengusutan kasus tersebut kepada Polri dan tim KPK yang dinilai kredibel.

"Nah selama ini juga tim Polri bekerja, oke kalau mungkin misalnya kalau dianggap kurang kredibel, saya kira tim dari KPK sangat dipercayai publik, dan kredibel. Oleh karena itulah kita berpikir kenapa tidak digabungkan dengan KPK supaya bersama-sama, sebaiknya kita percayai kedua lembaga ini, baik Polri dan KPK," tuturnya.

SUMBER: WWW.GARASIGAMING.COM

Jokowi: Kasus Penyerangan Novel Harus Segera Dituntaskan!

foto: bertha/GARASInews

Jakarta,GARASInews - Presiden Joko Widodo bicara soal kasus teror penyiraman air keras ke penyidik senior KPK Novel Baswedan. Jokowi ingin kasus itu segera dituntaskan.

"Kasus yang menimpa Pak Novel Baswedan harus segera dituntaskan," kata Jokowi.

Hal tersebut disampaikan Jokowi lewat akun Twitter resminya, @jokowi, Selasa (1/8/2017). Jokowi juga bicara soal perkembangan pengusutan teror air keras tersebut.

"Pengusutannya terus mengalami kemajuan," cuit Jokowi.

Cuitan Jokowi pun mendapat respons dari para pengikutnya di Twitter. Banyak yang mendukung kasus Novel segera diungkap.

"Mantap Pak, Harus diusut sampai tuntas demi keadilan buat Pak Novel Baswedan," balas pengguna Twitter dengan akun @chairul_mh.

Sebelumnya, Jokowi telah memanggil Kapolri Jenderal Tito Karnavian terkait kasus teror air keras ke Novel Baswedan. Tito menghadap Jokowi untuk melaporkan perkembangan kasus yang menimpa Novel.

Dalam jumpa pers usai pertemuan, Tito mengatakan sketsa wajah terduga penyerangan Novel sudah didapatkan. Sketsa diperoleh berdasarkan keterangan saksi yang ada di lokasi kejadian.

Saksi melihat terduga pelaku berdiri mencurigakan di dekat masjid tempat Novel menunaikan salat subuh berjemaah. Terduga penyerang Novel itu memiliki ciri-ciri seperti bertubuh ramping, tinggi 167-170 cm, kulit agak hitam dan rambut keriting.

"Ini adalah dari saksi yang sangat penting karena 5 menit sebelum kejadian ada di dekat masjid. Dia mencurigakan yang kami duga dia pengendara sepeda motor," kata Tito dalam konferensi pers usai pertemuan di Kantor Presiden Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Senin (31/7).

Saksi yang dimaksud Tito tak bersedia diungkap namanya. Tetapi saksi tersebut dinilai sangat penting oleh kepolisian. Pihaknya juga bekerja sama dengan kepolisian Australia (AFP) untuk mengungkap kasus ini.

SUMBER: WWW.GARASIGAMING.COM

Senin, 31 Juli 2017

Polisi Siap Usut Jika Novel Beri Info Soal Jenderal yang Diduga Terlibat

foto: bertha/GARASInews

Jakarta,GARASInews - Penyidik senior KPK Novel Baswedan berkali-kali menyampaikan ke beberapa media, soal dugaan keterlibatan oknum perwira tinggi Polri berpangkat jenderal dalam kasus teror terhadapnya. Bagaimana tanggapan polisi?

"Apakah itu isu? Info atau fakta hukum? Kalau fakta hukum, ada buktinya, siapa orangnya," terang Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono kepada GARASInews, Senin (31/7/2017).

Argo mengatakan, pihaknya akan mengusut soal jenderal yang disebut-sebut tersebut, jika Novel memberikan informasi tersebut ke pihak penyidik kepolisian. "Kalau info (dari Novel ke penyidik) ya kita selidiki," imbuhnya.

Sementara Argo menyampaikan, sejauh ini Novel belum pernah mengungkapkan soal dugaan keterlibatan oknum jenderal itu ke penyidik. "Belum ada. Sampaikan saja siapa namanya, barang buktinya," ucapnya.

Penyidik Polda Metro Jaya sendiri pernah menemui Novel di Singapura beberapa waktu lalu. Akan tetapi, lanjut Argo, keterangan yang disampaikan Novel tersebut belum dalam bentuk BAP (Berita Acara Pemeriksaan).

"Tentunya kan kita harus BAP. Sebelumnya kan kita datang hanya berapa menit, kan kita perlu BAP. (Waktu penyidik datang ke Singapura) kan cuma hanya tanya kondisi saja, harus ada izin dari dokter dulu," sambungnya.

Argo menegaskan, pihaknya sampai saat ini masih terus mendalami kasus tersebut. Polisi masih mencari siapa pelaku penyiraman air keras kepada Novel itu.

SUMBER: WWW.GARASIGAMING.COM

Novel Tak Yakin Kasusnya Bakal Diusut, Ini Kata Polisi

foto: bertha/GARASInews

Jakarta,GARASInews - Tiga bulan berlalu, pelaku penyiraman air keras ke Penyidik senior KPK Novel Baswedan, belum terungkap. Novel sendiri pesimis Polri bakal mengusut tuntas kasus itu. Lalu apa kata polisi?

"Kita tunggu saja, polisi masih bekerja dan sampai sekarang penyidik masih di lapangan untuk mencari pelakunya," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono kepada GARASInews, Senin (31/7/2017).

Argo mengatakan, pihaknya masih terus menyelidiki kasus tersebut. Polisi saat ini tengah merampungkan pembuatan tiga sketsa wajah yang diduga pelaku penyerangan terhadap Novel.

"Sudah jadi dua, masih nunggu satu lagi. Nanti sama-sama ya kalau sudah semua," imbuhnya.

Argo mengatakan, sketsa tersebut akan disempurnakan dalam bentuk 3 dimensi oleh tim Inafis Polri. "Setelah itu disketsa, dimasukkan ke dalam bentuk seperti foto. Yang punya cuma Inafis," lanjutnya.

"Tunggu yang dari polisi saja lah," jawab Argo saat ditanya sketsa wajah pelaku.

Sketsa terduga peneror Novel dibuat berdasarkan keterangan tiga orang saksi. Sketsa tersebut nantinya akan diperlihatkan lagi ke para saksi untuk dikonfirmasi kemiripannya.

"Kalau sudah jadi nanti kita sebar," ujarnya.

SUMBER: WWW.GARASIGAMING.COM

Novel Baswedan: Saya Tak Tahu Apakah Besok Masih Hidup

foto: bertha/GARASInews

Jakarta,GARASInews - Penyidik senior KPK Novel Baswedan bicara soal masa depannya setelah diteror air keras hingga penglihatannya terganggu. Novel menegaskan akan selalu di KPK, namun enggan berandai-andai jauh soal masa depan.

"Saya tidak mau berandai-andai. Saya melihat segala sesuatu adalah yang hari ini, sampai pun saya juga tidak tahu apakah besok saya masih hidup. Dengan demikian, saya tidak mau kemudian berandai-andai yang terlalu panjang," ucap Novel saat Blak-blakan bersama GARASInews di Singapura, Minggu (31/7/2017).

Novel memilih untuk berpandangan positif tentang masa depannya. "Kalau untuk rencana, tentunya saya berencana tetap di KPK. Tapi segala sesuatu yang terjadi, saya tidak pernah kemudian berandai-andai yang terlalu jauh," tambahnya.

Novel diteror air keras pada 11 April 2017 silam dan kemudian dibawa ke Singapura. Sejak saat itu, keluarga Novel bergantian menemaninya menjalani perawatan, termasuk istri dan anak-anaknya.

foto: bertha/GARASInews

Bagi Novel, semua peristiwa ini sudah terjadi atas kehendak Yang Kuasa. Kepada istri dan anaknya, Novel juga meminta mereka meningkatkan iman dan takwa.

"Ketika terjadi, sudah terjadi, saya tidak pernah berpikir negatif, saya berpikir positif. Toh juga dengan kejadian ini saya bisa mengajarkan kepada anak-anak saya, dan kepada istri saya untuk selalu meningkatkan iman dan takwa, dan dengan demikian, mereka tentunya saya harapkan akan mendapatkan pelajaran yang positif," ungkap Novel.

Istri dan anak-anak Novel tentu sempat shock dengan apa yang terjadi pada pria berusia 40 tahun itu. Meski demikian, keluarga tidak pernah keberatan dengan pekerjaan Novel yang penuh risiko ini.

"Anak-anak saya dan istri, mereka alhamdulillah cukup kuat, dan mereka bisa memahami apa yang saya lakukan. Bahkan mereka mendukung saya untuk selalu bekerja atau berjuang menegakkan kebenaran dan menegakkan hukum sebagai penyidik," ucapnya.