Tampilkan postingan dengan label pengusutan kasus novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengusutan kasus novel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Agustus 2017

Polisi Periksa Novel Baswedan di Singapura Pekan Depan

foto: bertha/GARASInews


Jakarta,GARASInews - Polda Metro Jaya akan mengirim penyidik ke Singapura untuk memeriksa penyidik KPK Novel Baswedan. Pemeriksaan Novel akan didampingi oleh pimpinan KPK.


"Rencana minggu depan ke Singapura," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono kepada GARASInews, Sabtu (12/8/2017).


Argo mengatakan pihaknya telah mengirim surat ke KPK terkait rencana pemeriksaan Novel tersebut. Argo belum bisa memastikan tanggal berapa pihaknya terbang ke Singapura.


"Sedang dikoordinasikan dengan KPK untuk waktunya kapan," imbuhnya.


Rencananya, dua orang penyidik dari Polda Metro Jaya yang akan berangkat ke Singapura. Novel akan di-BAP dalam pemeriksaan tersebut.


"Satu-dua orang saja, paling Kasubdit dan Direktur (Reskrimum Polda Metro Jaya). Pemeriksaan BAP," tandasnya.


Sebelumnya, Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan Novel akan menjalani operasi besar pada 17 Agustus 2017. KPK menyarankan ke Polri agar pemeriksaan dilakukan sebelum operasi tersebut.


"Sebelum operasi, Novel diharuskan istirahat dan melakukan sejumlah persiapan. Dan tentu saja karena ada bagian gusi yang diambil, akan ada beberapa hambatan-hambatan yang terjadi ketika selesai operasi. Sehingga kalau dikaitkan dengan kebutuhan pemeriksaan, waktu yang tepat untuk dilakukan pemeriksaan adalah sebelum operasi, sebelum jadwal istirahat yang disampaikan oleh dokter," tutur Febri di kantornya, Kuningan, Jaksel, Jumat (11/8/2017) kemarin.

SUMBER: WWW.GARASIGAMING.COM

Sabtu, 05 Agustus 2017

Sikap Novel yang Tak Mau Diperiksa Polisi Disoal Pansus Angket KPK

foto: bertha/GARASInews

Jakarta,GARASInews - Wakil Ketua Pansus Angket KPK Masinton Pasaribu mempertanyakan sikap Novel Baswedan yang masih enggan diperiksa polisi terkait teror penyiraman air keras. Menurut Masinton, penolakan Novel itu memperlambat kinerja kepolisian.

"Kalau gitu, mau percaya siapa kalau nggak mau di-BAP (berita acara pemeriksaan)? Kemudian semuanya disampaikan ke media. Sampai saking sibuknya dia kemarin, kondisi matanya tambah parah karena aktivitasnya meladeni media. Ini kan tambah parah, dibikin-bikin sendiri atau gimana," ujar Masinton dalam diskusi di Warung Daun, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (5/8/2017).

Masinton menyebut publik harus melihat kasus Novel secara objektif. Kesulitan kepolisian itu disebut Masinton termasuk sikap Novel yang tak mau diperiksa itu.

"Kita harus objektif agar kita juga bisa mengungkapnya secara benar. Saya melihat dalam kasus Novel, dengan segala hormat dan keprihatinan saya dengan kondisi beliau sekarang, ada beberapa catatan. Pertama, adalah sampai saat ini pelaku belum ketemu. Kemudian sekarang dia sedang berobat dan kepolisian kesulitan mem-BAP dia. Kepolisian sudah pergi ke Singapura dua kali, seingat saya, untuk beliau menyampaikan seluruh keterangannya dalam BAP. Nah itu tidak dilakukan oleh Novel yang cenderung tidak percaya kepolisian," ujar Masinton.

Politikus PDIP itu juga menyinggung soal Novel yang membicarakan kasusnya ke media. Menurutnya, Novel tengah membangun opini.

"Kenapa disampaikan ke media? Apakah sedang beropini? Kalau membangun opini berarti sedang berpolitik. Kalau kita sedang mencari keadilan, kebenaran ya kita tempuh upaya hukum," ujar Masinton.

Selain itu, Masinton juga 'menyerang' pimpinan KPK. Menurutnya, pimpinan KPK harus bisa mengontrol Novel.

"Dan yang saya sayangkan pimpinan KPK. Sampai sekarang ada nggak kita mendengar Pimpinan KPK mencegah bawahannya ngomong sembarangan, tuding sana-sini," tutur Masinton.

"Ada institusi negara yang dituding oleh saudara Novel, ada jenderal yang dituding saudara Novel dan tidak ada teguran dari Pimpinan KPK," kata Masinton menambahkan.

SUMBER: WWW.GARASIGAMING.COM

Selasa, 01 Agustus 2017

Diajak Kapolri Ikut Usut Teror ke Novel, Ini Jawaban KPK

foto: bertha/GARASInews

Jakarta,GARASInews - KPK menyebut belum ada tim bersama-sama dengan Polri dalam rangka investigasi teror penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan. Lagipula, KPK menyebut bila investigasi kasus Novel merupakan ranah pidana umum yang berarti di luar kewenangan KPK.

"Belum ada tim, dalam artian tim yang bersama-sama melakukan investigasi, seperti yang disampaikan Kapolri," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah ketika dikonfirmasi GARASInews, Selasa (1/8/2017).

"Karena investigasi tersebut bersifat pro yustisia dan berada di ranah pidana umum, tentu kewenangan saat itu berada di Polri," sambung Febri.

Namun KPK menyambut positif pertemuan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, kemarin. KPK pun siap berkoordinasi dengan Polri selanjutnya dalam rangka penuntasan kasus Novel.

"Tentu, kita mencoba melihat pertemuan Kapolri ke Presiden kemarin sebagai hal positif. Perhatian Presiden pada teror terhadap Novel yang sejak awal langsung mengutuk dan memerintahkan Kapolri, dan setelah 111 hari kemudian memanggil Kapolri perlu kita hargai. Harapannya setelah ini ada percepatan pengusutan hingga pelaku ditemukan," ujar Febri.

Pada Senin kemarin, Tito menjawab tentang desakan publik akan pembentukan tim gabungan pencari fakta yang melibatkan unsur sipil. Tito menegaskan sudah ada tim bentukan Polri yang juga membuka keterlibatan KPK.

"Saya pikir kita harus percaya kepada institusi KPK karena teman-teman di KPK kan cukup kredibel. Kalau saja dibentuk tim gabungan independen, misalnya, ini kan sifatnya mencari fakta, bukan melakukan investigasi. Kalau mencari fakta beda dengan investigasi," ujar Tito di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.

Tito mengatakan investigasi dapat melakukan penyelidikan lebih mendalam sampai menemukan data mentah. Tim investigasi bahkan dapat melakukan analisis IT untuk mengungkap kasus tersebut.

Tito mengakui kinerja polisi dalam mengusut kasus Novel selama ini dipandang kurang kredibel. Untuk itu, pihaknya meminta publik mempercayakan pengusutan kasus tersebut kepada Polri dan tim KPK yang dinilai kredibel.

"Nah selama ini juga tim Polri bekerja, oke kalau mungkin misalnya kalau dianggap kurang kredibel, saya kira tim dari KPK sangat dipercayai publik, dan kredibel. Oleh karena itulah kita berpikir kenapa tidak digabungkan dengan KPK supaya bersama-sama, sebaiknya kita percayai kedua lembaga ini, baik Polri dan KPK," tuturnya.

SUMBER: WWW.GARASIGAMING.COM

Jokowi: Kasus Penyerangan Novel Harus Segera Dituntaskan!

foto: bertha/GARASInews

Jakarta,GARASInews - Presiden Joko Widodo bicara soal kasus teror penyiraman air keras ke penyidik senior KPK Novel Baswedan. Jokowi ingin kasus itu segera dituntaskan.

"Kasus yang menimpa Pak Novel Baswedan harus segera dituntaskan," kata Jokowi.

Hal tersebut disampaikan Jokowi lewat akun Twitter resminya, @jokowi, Selasa (1/8/2017). Jokowi juga bicara soal perkembangan pengusutan teror air keras tersebut.

"Pengusutannya terus mengalami kemajuan," cuit Jokowi.

Cuitan Jokowi pun mendapat respons dari para pengikutnya di Twitter. Banyak yang mendukung kasus Novel segera diungkap.

"Mantap Pak, Harus diusut sampai tuntas demi keadilan buat Pak Novel Baswedan," balas pengguna Twitter dengan akun @chairul_mh.

Sebelumnya, Jokowi telah memanggil Kapolri Jenderal Tito Karnavian terkait kasus teror air keras ke Novel Baswedan. Tito menghadap Jokowi untuk melaporkan perkembangan kasus yang menimpa Novel.

Dalam jumpa pers usai pertemuan, Tito mengatakan sketsa wajah terduga penyerangan Novel sudah didapatkan. Sketsa diperoleh berdasarkan keterangan saksi yang ada di lokasi kejadian.

Saksi melihat terduga pelaku berdiri mencurigakan di dekat masjid tempat Novel menunaikan salat subuh berjemaah. Terduga penyerang Novel itu memiliki ciri-ciri seperti bertubuh ramping, tinggi 167-170 cm, kulit agak hitam dan rambut keriting.

"Ini adalah dari saksi yang sangat penting karena 5 menit sebelum kejadian ada di dekat masjid. Dia mencurigakan yang kami duga dia pengendara sepeda motor," kata Tito dalam konferensi pers usai pertemuan di Kantor Presiden Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Senin (31/7).

Saksi yang dimaksud Tito tak bersedia diungkap namanya. Tetapi saksi tersebut dinilai sangat penting oleh kepolisian. Pihaknya juga bekerja sama dengan kepolisian Australia (AFP) untuk mengungkap kasus ini.

SUMBER: WWW.GARASIGAMING.COM